BPB-LDD adalah LSM perburuhan yang berlatar belakang gereja katolik. Kehadiran BPB ditengah – tengah buruh yang pluralisme tetap menjaga kenetralan. Pelayanan BPB juga integral, yang mendalam dan integritas menyangkut hakiki kemanusiaan, penyapaan pelayannya.
Bantar Gebang,Blog Spot BPB – Ekonomi lebih baik, hidup sejahtera dan bisa menabung menjadi harapan buruh yang sedang terjebak dalam kondisi ketidakpastian.
Demikian harapan keluarga buruh yang disampaikan pada pertemuan buruh kontrak & outsourcing di Bantar Gebang- Bekasi, Sabtu (17/4)
Realita di lapangan, sebagian buruh kontrak & outsourcing mendapat penghasilan dibawah upah minimum kabupaten (UMK), banyak hutang dan tidak memiliki tabungan. “Bagaimana bisa menabung, untuk makan saja tidak cukup”, ungkap Supriyatun.
Selain system hubungan kerja yang fleksibel yang menjadi penyebab, kemiskinan buruh juga disebabkan oleh keterpaksaan mempertahankan hidup dengan cara “gali lubang tutup lobang”(banyak hutang- red).
Untuk melawan kemiskinan tersebut, buruh sepakat untuk meningkatkan kapasitas diri dalam pengelolaan uang yang sedikit itu. “Bagaimana dapat mengelola uang yang sedikit itu”, ujar Magdalena. “Justru uang yang sedikit itu harus dikelola dengan baik”, kata Gathot.
“Ada 4 kebiasaan manusia dalam mengelola uang”, kata Gathot. Tipe I , orang ngutang dulu lalu dapat duit. Setelah itu, bayar hutang dan belanja lalu ngutang lagi. Tipe I ini, disebut kelompok melarat. Tipe II, orang dapat duit lalu belanja habis. Ini disebut kelompok miskin. Tipe III, orang dapat duit lalu belanja selanjutnya nabung. Ini adalah kelompok pas-pasan. Tipe IV, dapat uang lalu 10% ditabung , bayar utang dan sisasanya untuk belanja. Ini adalah kelompok kaya. “Bagaimana dengan kita, termasuk cara yang keberapa?”, tanya Gathot.
Dalam penghujung pertemuan, Ambar mengajak peserta untuk berbuat sesuatu untuk melawan kemiskinan, yakni membangun gerakan menabung. Selain membangun gerakan menabung, peserta sepakat pada pertemuan berikut meningkatkan kapasitasnya untuk membuat mie kuning dan kue pastel (***)
Purwokerto, Blog Spot BPB- 4 lembaga Gereja Katolik yang bergabung dengan FPBN (Forum Pendamping Buruh Nasional) memberikan inspirasi bagi PSE (Pembangunan Sosial- Ekonomi) Purwokerto untuk memulai karya pelayanan bagi buruh industry di wilayahnya.
“Purbalingga adalah tujuan investasi baru di Jawa Tengah”, kata Rm. Teguh Pr. Purbalingga kota industrymanufaktur sebagai usaha mencari buruh murah.
“Kita kedatangan teman – teman buruh yang bekerja pada industry bulu mata”, ujar Rm. Teguh Pr, sambil memeprkenalkan ketiga buruh yang datang dari Purbalingga, pada pertemuan FPBN wilayah Barat di Purwokerto, Rabu (14/4)
Persoalan buruh di Purbalingga tidak jauh berbeda dengan persoalan buruh pada umumnya. Persoalan lembur hingga soal kebijakan industry di daerah tersebut.
Setelah mendengar dan memeprtimbangkan, RM. Teguh Pr dkk mengambil sikap untuk ambil bagian dalam membangun hubungan industrial yang adail dan bermartabat di wilayahnya.
Agar karya ini menjadi komitmen Gereja Katolik Keuskupan Purwokerto, Rm Teguh Pr dkk akan membuat pemetaan persoalan buruh di Purbalingga. Hasil pemetaan tersebut menjadi salah satu agenda pertemuan musyawarah pastoral Keuskupan Purwokerto pada t5ahun 2011.
Selain member masukan kepada PSE Keuskupan Purwokerto, peserta rapat menindaklanjuti usulan program FPBN wilayah Barat tahun 2010. Kegiatan tangga 16 Mei 2010 di Bogor menjadi kegiatan jaringan untuk mengklarifikasi hasil riset yang pernah dilakuakn bersama mitra (aliansi serikat buruh- red)
Selain advokasi, FPBN wilayah Barat juga menjalan program penguatan ekonmi buruh (koperasi CU- red) di wilayah masing- masing. (***)
Cakung, Blog Spot BPB- Sebanyak 20 buruh PT. Mutiara Mitra Busana Apparelindo (MMBA)- KBN Cakung Jakrta Utara, Kamis (8/4) memulai menggagas menemukan ikatan kebersamaan setelah pasca putusan pengadilan dipenuhi oleh pihak pengusaha.
Putusan PHI Jakarta pada sidang Kamis, 28 Januari 2010 memutuskan agar perusahaan membayar upah proses, dikabulkan. Total yang harus dibayarkan kepada para penggugat sebesar Rp1,791 miliar. Dengan rincian masing-masing penggugat mendapat Rp3,8 juta atau tiga bulan upah
Bisa jadi setelah putusan tersebut dilaksanakan, buruh PT. MMBA yang sebagian perempuan bubar, begitu juga serikat buruh musnah tanpa bekas. Juntono dkk berfikir keras, bagaimana anggota serikat tidak bubar?
Juntono dkk bekerjasamadengan Lembaga Daya Dharma lewat Biro Pelayanan Buruh mencari sarana daya ikat buruh yang tidak lama lagi akan bubar. Salah satu bentuk ikatan yang ditemukan adalah merintis kelompok usaha.
Ridwan, buruh PT. MMBA untuk memenuhi kebutuhan sehari – hari selama proses pengadilan bersama kawan – kawan bekerja di salah satu home industry konveksi. Ridwan dkk bermimpi memiliki usaha konveksi sendiri dan membuka kesempatan bagi mantan buruh PT. MMBA untuk bekerja di home industrinya.
Persoalan buruh untuk membuka usaha adalah soal modal (dana). Deli, staf LDD membuka diskusi dengan pertanyaaqn: “Apa yang anda pikirkan dengan membuka konveksi?” Menurut Ridwan dkk, kebutuhan akan mesin dan modal (dana- red). Modal untuk pengadaan mesin dibutuhkan dana sebesar Rp. 6,5 juta. “Bagaimana dana sebesar itu didapat”?, tanya Deli.
Dari diskusi, teman – teman buruh PT. MMBA sadar bahwa untuk mendapatkan modal memerlukan proses dan kreativitas. Oleh sebab itu, tidak ada sesuatu yang instan dalam membuka usaha. Kekuatan buruh PT MMBA perlu digali, banyak potensi yang dimiliki untuk mengembangkan inovasi keterikatan anggota organisasi.
Salah satu cara untuk tetap membangun ikatan buruh PT MMBA adalah membangun kelompok usaha. Mengingat umur pensiun buruh dipabrik 35 tahun. “Kami yang berumur 35 tahun tidak laku lagi bekerja di pabrik”, ungkap ridwan. (***)
Jakarta, Blog Spot BPB- Sebanyak 30 buruh korban PHK telah merintis usaha, dari usaha konveksi hingga produk makanan. Namun yang menjadi kesulitan dari mereka adalah soal pemasaran. Hal itu terungkap pada pelatihan entrepreneurship yang diselenggarakan oleh Biro Pelayanan Buruh LDD , Rabu (03/3) di Gedung Karya Sosial KAJ Jakarta Pusat.
Jim Mintarja, memulai karier sebagai barang industry di salah satu perusahaanGroup TIRA mengatakan memproduksi barang mudah tetapi untuk memasarkan tidak segampang apa yang kita pikirkan.
Dalam evaluasi produk, untuk kemasan hindarilah penggunaan steples, karena berbahaya. Soal label, merk dibuat dengan warna-warni, pasti akan lebih menarik perharian orang. Soal bentuk produk, Jim Mintarja mengusulkan membuat ukuran bulat yang sama.
Siapa yang sudah usaha? Dan siapa yang belum? Dari peserta yang dating, mayoritas sudah memulai usaha. Tip bagimana membuka usaha: (1)melihat peluang dan kesenangan, (2) mau jual kemana dan siapa pasar kita?, (3) bagaimana caranya supaya produk kita dikenal atau mau dibeli orang.
Setelah itu, ada berbagi pengalaman usaha, missal sdr Hendy dari Pasar Kemis, mantan buruh PT. Nasa- Tangerang. Ia memproduksi kerupuk bawang dan stik keju. Teman- teman BPPC ada yang usaha mie ayam dan jahe merah. Sedangkan teman –teman Tigaraksa membuat manisan cabe dan terung. Teman – teman dari rusun Cengkareng membuka usaha konveksi.
Menurut Jim, jangan berhenti berinovasi dan diusahakan membuka usaha yang unik. Jim Mintarja juga menyinggung manajemen keuangan: “pisahkan keuangan usaha dengan keuangan keluarga, disiplin membuat catatan sampai sekecil- kecilnya”.
Pada akhir session, Bapak Jim memotivasi peserta bahwa salah satu karunia terbesar manusia adalah pikiran. Manusia diberi potensi yang besar, tinggal bagaimana kita menemukan potensi-potensi yang bisa dikembangkan. Mengapa ada orang yang tidak juga memulai usaha? Takut! Maka harus diatasi dulu ketakutan. (***)
Serikat Mengembangkan Usaha
Cengkareng, Blog Spot BPB- Pengurus dan simpatisan Serikat Buruh (GSBI) tingkat PT KMIL Cengkareng – Jakarta Barat membangun kerjasam dengan LDD untuk menemukan solusi alternative pemberdayaan serikat dibidang ekonomi.
L. Gathot Widyanata, utusan Biro Pelayanan Buruh – LDD, Sabtu (16/3) di sekertariat SB PT KMIL Cengkareng Jakarta barat menyampaikan focus program BPB yang bisa diakses oleh serikat. Tahun 2010 BPB memiliki dua focus program, yakni program pengorganisasianserikat buruh dan pengorganisasian buruh kontrak & outsourching.
Untuk mewujudkan program tersebut, BPB menawarkan entry point (pintu masuk) yakni pemberdayaan ekonomi bagi buruh dan keluarganya. Misalnya, serikat memiliki usaha- saat ini, teman – teman PT KMIL memiliki usaha jual pulsa. Untuk mengembangkan usaha tersebut BPB dapat memfasilitasi pelatihan usaha dan bagaimana mengusahakan modal.
Disamping itu, 8 buruh pengurus Serikat Buruh PT KMIL yang ter-PHK karena mendirikan serikat, mempunyai mimpi untuk membuka usaha bengkel bubut, - yang menarik dari mimpi tersebut bahwa usaha tersebut dijadikan usaha serikat.
Salah satu peserta pertemuan menuturkan, untuk mendapatkan modal apakah kami harus mengajukan kepada LDD. Menurut L. Gathot Widyanata, Biro Pelayanan Buruh LDD bukan lembaga penyandang dana permodalan. LDD memberikan cara untuk mendapatkan modal tersebut.
Abubakar, salah satu pengurus mantan Serikat Buruh PT KMIL menarik kesimpulan sementara bahwa kita perlu membuat pertemuan dengan LDD secara berkelanjutan. Ia tertarik untuk memulai dengan membangun koperasi terlebih dahulu. (***)
Buruh Outsourcing Asal Sangirtalaut
Bekasi, Blog Spot BPB- Son Laluraga buruh outsourcing asal Sangirtalaut – Sulawesi Utara. Ia bekerja di PT. Metindo Era Sakti Bantar Gebang – Bekasi melalupenyedia jasa tenaga kerja PT Indo Karya yang beralamat di jl. Cut Mutia – Bekasi. “Upah yang aku terima hanya Rp. 800.000,- per-bulan”, ungkanya. Sementara, ia harus menghidupi keluarga dan menanggung dua anak yang masih diduduk dikelas SD.
Kesaksian tersebut dibagikan pada pertemuan koordinasi buruh kontyrak & outsourcing di rumah Ibu Jadmoko, Jl. Benda- Padurenan Bandar Gebang – Bekasi, Minggu (21/3).Menurut Son yang beristri orang Medan, “Aku harus rela mengeluarkan uang Rp. 1.000.000,- untuk mendapatkan pekerjaan tersebut”.
Dalam carut- marutnya hubungan industrial, ia mengingat kembali potensi yang pernah dimiliki. Ia pernah membuka usaha produksi mie tanpa pengawet dan bakso. Namun usaha tersebut ditidak ditekuni, lebih tertarik bekerja di pabrik (relative tetap penghasilannya- red).
Motivasi bertemu dengan teman –teman, dapat membangkitkan jiwa enterpreurship yang lama ditinggalkan. Demikian halnyateman – teman yang hadir dalam pertemuan tersebut memiliki motivasi yang sama. Pada dasarnya, peserta yang hadir butuh komunitas untuk bertemu dalam menghadapi kondisi ekonomi keluarga buruh yang terpuruk.
Sebagai entry point pengorganisasian buruh kontrak & outsourcing, peserta sepakat untuk mempelajari koperasibentuk pemberdayaan permodalan. (***)